Ads (728x90)

Pictures

Technology

728x90 AdSpace

Sports

Fashion

Travel



Tahun di mana paman Rasul Muhammad, Abu Thalib meninggal, disusul dengan kematian istrinya, Khadidjah, ia sering disebut mengalami masa duka. Inilah tahun yang dalam sejarah Islam dikenal dengan istilah tahun kesedihan [am al hujni]. Tahun di mana Muhammad sebagai basyar merasa terpukul atas berbagai ujian yang diberikan Tuhan.

Duka ini, kemudian ditambah dengan meninggal anaknya, Kosim. Kesepian Nabi Muhammad dianggap banyak sahabat semakin mendera. Allah menghibur Nabi dengan memberinya ruang untuk melakukan rekreasi spiritual. Rekreasi itu dikenal dengan nama: “Isra dan Mi’raj”. Tetapi, Nabi Muhammad tetap saja tidak beranjak dari kelajangannya. Ia tetap membayangkan bagaimana Khadjijah melayani perjalanan dirinya sebagai manusia dan sebagai Rasul Tuhan yang penuh tantangan.Di rumahnya, setelah Khadijah meninggal, Rasul dibantu Khawlah, istri Utsman ibnu Mazh’un. Dialah yang berani menyarankan kepada nabi agar menikahi perempuan lain dan memintanya untuk tidak larut dalam duka. Kepada Rasul, ia menawarkan Aisyah putri Abu Bakar dan Sawdah putri Zam’ah.

Pernikahan dalam Bimbingan Wahyu


Tawaran Khawlah itu, setelah setahun masa kesedihan itu berlalu, persis ketika Nabi Muhammad berumur 50 tahun, ia bermimpi. Di mimpinya, ia didatangi seorang laki-laki yang membawa perempuan berkerudung sutera. Laki-laki itu berkata: Ini adalah istrimu. Bukalah kerudungnya. Setelah dibuka ternyata dia adalah Aisyah.Rasul Muhammad tahu jika Aisyah telah ditunangkan Abu Bakar kepada Jubayr bin Muth’im. Nabi hanya berkata: “Jika ini berasal dari Allah, Dia pasti mewujudkannya.”

Beberapa malam kemudian, Rasul mimpi kembali dengan tema yang sama. Namun dalam mimpi keduanya, Rasul-lah yang meminta kepada laki-laki, yang ternyata Jibril itu, untuk membuka kerudungnya. Ketika Jibril membuka keudrung yang menutup mukanya, ternyata wajah Aisyah yang kembali tampak. Nabi berkata seperti dalam mimpi pertama: “Jika ini berasal dari Allah, Dia pasti mewujudkannya.”
 

Ketika berita akan mimpi Rasul itu sampai kepada Abu Bakar, ia akhirnya membujuk Muth’im, agar menggagalkan rencana pernikahan anak-anak mereka. Dan di luar dugaan, permohonan Abu Bakr ini disetujui Muth’im. Akhirnya, Rasul menikahi Aisyah. Pernikahan itu berlangsung di bulan Syawal.

Pernikahan Rasul bersama Aisyah di bulan Syawal itu, terekam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Aisyah sebagai berikut: “Rasulullah SAW, menikahiku [kata Aisyah] saat bulan syawal. Dia juga melakukan hubungan pertama denganku di bulan syawal juga. Aisyah kemudian berkata: “Adakah istri lain yang mendapat perhatian lebih selain selain aku? [HR. Muslim dan Al Nasa’i].

Mungkin dengan nalar hadits ini pula, mengapa di Indonesia, banyak masyarakat Muslim yang menikahkan puterinya di bulan Syawal. Jadi yo siapa yang mau menyusul.

Posting Komentar